January 31, 2016


            Semua manusia di dunia ini memiliki tugas yang sama, yaitu menjadi “khalifah” di muka bumi ini. Hal ini telah ada dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30. Tugas manusia yang sama tersebut seharusnya menjadikan hak dan kewajiban manusia menjadi sama pula. Orang mampu mengimplementasikan pengetahuannya melalui tugas yang mulia ini. Tetapi pada kenyataannya kemampuan manusia sangat beragam. Ada seseorang yang mampu bekerja dengan mandiri, ada pula yang harus berkelompok dalam segala hal. Semua itu menjadikan posisi manusia dalam kehidupan ini berbeda-beda. Bill Gates mengatakan, “Bukan salah seseorang lahir dalam keadaan miskin, namun sangat rugi bagi orang yang mati dalam keadaan miskin”. Kutipan tersebut tidak selamanya benar, tidak pula selalu salah. Mungkin bagi orang yang hanya mengurusi urusan duniawi pasti sangat berpengaruh, namun tidak bagi orang yang selalu bersyukur.
Jika kita memandang suatu negara pasti kita terpaku pada sesuatu yang menjadi ikon negara tersebut. Tapi kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan negara itu. Indonesia sudah sangat kaya akan sumber daya alamnya. Kekayaan tersebut banyak dinikmati oleh orang asing. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan. Masalah jumlah penduduk, Indonesia tidak lagi diragukan. Namun kesejahteraannyalah yang patut dipertanyakan dan pemudalah yang harus menyelesaikan persoalan ini. Tetapi apa daya pemuda sekarang yang sudah banyak diracuni pengaruh globalisasi yang negatif. Pendidikan menjadi harapan hampa, semangat akan belajar menjadi impian semata. Itulah keadaan pemuda sekarang. Di balik semua itu seharusnya kita sadar bahwa masih banyak orang baik di luar sana. Kekayaan seseorang sudah banyak yang dimanfaatkan demi kepentingan dan kesejahteraan bersama. Hanya dengan sadar akan berubahnya keadaan seseorang, maka semua masalah itu mampu diatasi. Tidak ada alasan bagi seseorang yang ingin maju jika mau berusaha. Pendidikan sudah sangat mudah untuk didapatkan. Mencintai kekurangan diri dan mampu berubah itulah kuncinya. Kekurangan kita sebenarnya adalah kelebihan kita yang tidak dimiliki orang lain.
Biaya yang menjadi alasan pendidikan kini sangat mudah kita dapatkan. Dulu seseorang rela berjalan beberapa puluh kilometer hanya untuk menuntut ilmu. Semua itu bertujuan agar dapat menjalani hidup dengan baik. Kita dapat mengingat bahwa siapa pun yang menginginkan kebaikan di dunia, kebaikan agama, dan kebaikan akhirat haruslah dengan ilmu. Betapa pentingnya ilmu untuk kehidupan kita. Kekurangan-kekurangan yang ada memang sedikit membatasi ruang gerak kita. Tetapi semua itu sudah mudah kita atasi dengan banyaknya bantuan dan dukungan orang lain. Orang tua yang selalu berdoa demi anaknya pasti sangat menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses. Tidak cukup pendidikan menengah untuk mendapatkan posisi baik di zaman sekarang, dan itulah suatu realitas hidup.
Sudah seharusnya kita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin karena pemudalah yang mampu menggerakkan dunia. “Berikan saya sepuluh pemuda, akan saya goncangkan dunia”, kata Ir. Soekarno. Dari kalimat tersebut menggambarkan betapa pentingnya peran pemuda. Pemuda harus cerdas, harus memiliki pendidikan dan pengetahuan luas. Kekurangan, keterbatasan atau pun rintangan dan hambatan adalah hal yang harus dihadapi. Tidak ada alasan cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang belum setinggi cita-cita. Pendidikan menjembatani kita untuk meraih kesuksesan. Semangat diri sendiri adalah sumbernya. Apabila kita menginginkan sesuatu termasuk kemampuan melanjutkan pendidikan, sudah seharusnya kita memintanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. selain dengan usaha yang keras. Bagi orang yang terlanjur menjalani kehidupan nyata dengan ilmu yang sedikit, tugasnya adalah lebih bermanfaat bagi sesama. Anggota keluarga terutama orang yang lebih muda seharusnya kita beri mereka semangat yang jauh lebih besar.
Sebagai negara yang besar, sudah seharusnya Indonesia menjadi negara yang mampu mengelola kekayaannya sendiri. Pada kenyataannya banyak perusahaan asing yang menguasai sebagian besar wilayah Indonesia. Semua itu tidak akan berlanjut apabila generasi penerus bangsa adalah orang-orang yang cerdas, tidak mengeluh akan kekurangan yang dimiliki. Semangat yang tinggi sangat diperlukan untuk mencapai kondisi tersebut. Banyak orang sukses berasal dari golongan keluarga tidak mampu tetapi mereka sangat bersemangat merubah keadaanya. Kita ketahui perjalanan panjang Khairul Tanjung yang akrab disebut ”Si Anak Singkong”, ia sangat semangat akan mencari ilmu meskipun banyak tantangan dan halangan. Ia tidak pernah mengeluh meskipun keadaannya kurang begitu beruntung. Namun sekarang ia dapat merubah keadaannya itu menjadi orang yang sangat luar biasa. Dari contoh tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan akan sebanding dengan usaha yang dilakukan.
Banyak orang yang mampu maju dalam keadaan yang terbatas. Kita dapat mengamati ajang olahraga dunia, Paralympic Games, memperlihatkan betapa semangatnya para penyandang disabilitas mampu menaklukan tantangan-tantangan yang kadang orang normal pun sulit untuk melakukannya. Dengan melihat ajang itu saja seharusnya masyarakat terutama pemuda dapat menyadari kelebihan besar yang dimilikinya. Kelebihan-kelebihan inilah yang mampu mengantarkan pemuda ke depan pintu gerbang kesuksesan. Semua itu pun akan terwujud dengan banyaknya doa dan usaha yang keras. Apalagi di zaman global sekarang, informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. “Dunia di tangan” sudah berhasil terwujud dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal inilah yang menjadi alat utama untuk bergerak maju tanpa hambatan.

0 komentar:

Categories

Sample Text

Blog Archive

Khadikkil Fahmi. Powered by Blogger.

Video

Popular Posts

Our Facebook Page

Light Future

Contact Us

Name

Email *

Message *

Followers

Photos

Photos

Canvassing IPB

Canvassing IPB
the great leader

Translate

Search

Popular Posts