Semua manusia di dunia ini memiliki
tugas yang sama, yaitu menjadi “khalifah” di muka bumi ini. Hal ini telah ada
dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30. Tugas manusia yang sama tersebut
seharusnya menjadikan hak dan kewajiban manusia menjadi sama pula. Orang mampu
mengimplementasikan pengetahuannya melalui tugas yang mulia ini. Tetapi pada
kenyataannya kemampuan manusia sangat beragam. Ada seseorang yang mampu bekerja
dengan mandiri, ada pula yang harus berkelompok dalam segala hal. Semua itu
menjadikan posisi manusia dalam kehidupan ini berbeda-beda. Bill Gates
mengatakan, “Bukan salah seseorang lahir dalam keadaan miskin, namun sangat
rugi bagi orang yang mati dalam keadaan miskin”. Kutipan tersebut tidak
selamanya benar, tidak pula selalu salah. Mungkin bagi orang yang hanya
mengurusi urusan duniawi pasti sangat berpengaruh, namun tidak bagi orang yang
selalu bersyukur.
Jika
kita memandang suatu negara pasti kita terpaku pada sesuatu yang menjadi ikon
negara tersebut. Tapi kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam
kehidupan negara itu. Indonesia sudah sangat kaya akan sumber daya alamnya.
Kekayaan tersebut banyak dinikmati oleh orang asing. Banyak faktor yang
menyebabkan hal itu bisa terjadi. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan.
Masalah jumlah penduduk, Indonesia tidak lagi diragukan. Namun
kesejahteraannyalah yang patut dipertanyakan dan pemudalah yang harus
menyelesaikan persoalan ini. Tetapi apa daya pemuda sekarang yang sudah banyak
diracuni pengaruh globalisasi yang negatif. Pendidikan menjadi harapan hampa,
semangat akan belajar menjadi impian semata. Itulah keadaan pemuda sekarang. Di
balik semua itu seharusnya kita sadar bahwa masih banyak orang baik di luar
sana. Kekayaan seseorang sudah banyak yang dimanfaatkan demi kepentingan dan
kesejahteraan bersama. Hanya dengan sadar akan berubahnya keadaan seseorang,
maka semua masalah itu mampu diatasi. Tidak ada alasan bagi seseorang yang
ingin maju jika mau berusaha. Pendidikan sudah sangat mudah untuk didapatkan.
Mencintai kekurangan diri dan mampu berubah itulah kuncinya. Kekurangan kita
sebenarnya adalah kelebihan kita yang tidak dimiliki orang lain.
Biaya
yang menjadi alasan pendidikan kini sangat mudah kita dapatkan. Dulu seseorang
rela berjalan beberapa puluh kilometer hanya untuk menuntut ilmu. Semua itu
bertujuan agar dapat menjalani hidup dengan baik. Kita dapat mengingat bahwa siapa
pun yang menginginkan kebaikan di dunia, kebaikan agama, dan kebaikan akhirat
haruslah dengan ilmu. Betapa pentingnya ilmu untuk kehidupan kita.
Kekurangan-kekurangan yang ada memang sedikit membatasi ruang gerak kita.
Tetapi semua itu sudah mudah kita atasi dengan banyaknya bantuan dan dukungan
orang lain. Orang tua yang selalu berdoa demi anaknya pasti sangat menginginkan
anaknya menjadi orang yang sukses. Tidak cukup pendidikan menengah untuk
mendapatkan posisi baik di zaman sekarang, dan itulah suatu realitas hidup.
Sudah
seharusnya kita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin karena pemudalah yang
mampu menggerakkan dunia. “Berikan saya sepuluh pemuda, akan saya goncangkan
dunia”, kata Ir. Soekarno. Dari kalimat tersebut menggambarkan betapa
pentingnya peran pemuda. Pemuda harus cerdas, harus memiliki pendidikan dan
pengetahuan luas. Kekurangan, keterbatasan atau pun rintangan dan hambatan
adalah hal yang harus dihadapi. Tidak ada alasan cita-cita yang terlalu tinggi,
yang ada hanyalah usaha yang belum setinggi cita-cita. Pendidikan menjembatani
kita untuk meraih kesuksesan. Semangat diri sendiri adalah sumbernya. Apabila
kita menginginkan sesuatu termasuk kemampuan melanjutkan pendidikan, sudah
seharusnya kita memintanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. selain
dengan usaha yang keras. Bagi orang yang terlanjur menjalani kehidupan nyata
dengan ilmu yang sedikit, tugasnya adalah lebih bermanfaat bagi sesama. Anggota
keluarga terutama orang yang lebih muda seharusnya kita beri mereka semangat
yang jauh lebih besar.
Sebagai
negara yang besar, sudah seharusnya Indonesia menjadi negara yang mampu
mengelola kekayaannya sendiri. Pada kenyataannya banyak perusahaan asing yang
menguasai sebagian besar wilayah Indonesia. Semua itu tidak akan berlanjut
apabila generasi penerus bangsa adalah orang-orang yang cerdas, tidak mengeluh
akan kekurangan yang dimiliki. Semangat yang tinggi sangat diperlukan untuk
mencapai kondisi tersebut. Banyak orang sukses berasal dari golongan keluarga
tidak mampu tetapi mereka sangat bersemangat merubah keadaanya. Kita ketahui
perjalanan panjang Khairul Tanjung yang akrab disebut ”Si Anak Singkong”, ia
sangat semangat akan mencari ilmu meskipun banyak tantangan dan halangan. Ia
tidak pernah mengeluh meskipun keadaannya kurang begitu beruntung. Namun
sekarang ia dapat merubah keadaannya itu menjadi orang yang sangat luar biasa.
Dari contoh tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan akan sebanding
dengan usaha yang dilakukan.
Banyak
orang yang mampu maju dalam keadaan yang terbatas. Kita dapat mengamati ajang
olahraga dunia, Paralympic Games, memperlihatkan betapa semangatnya para
penyandang disabilitas mampu menaklukan tantangan-tantangan yang kadang orang
normal pun sulit untuk melakukannya. Dengan melihat ajang itu saja seharusnya
masyarakat terutama pemuda dapat menyadari kelebihan besar yang dimilikinya.
Kelebihan-kelebihan inilah yang mampu mengantarkan pemuda ke depan pintu
gerbang kesuksesan. Semua itu pun akan terwujud dengan banyaknya doa dan usaha
yang keras. Apalagi di zaman global sekarang, informasi dengan sangat mudah
kita dapatkan. “Dunia di tangan” sudah berhasil terwujud dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal inilah yang menjadi alat utama untuk bergerak
maju tanpa hambatan.


0 komentar:
Post a Comment